Senin, 15 Agustus 2011

motivasi belajar dengan prestasi belajar matematika bab 2


BAB II

KAJIAN PUSTAKA

 

1  Motivasi Belajar

A. Pengertian Motivasi
Kata motivasi berasal dari bahasa latin yaitu kata movere yang berarti bergerak. Dalam konteks sekarang, motivasi dapat didefinisikan sebagai suatu proses psikologi yang menghasilkan suatu intensitas, arah, dan ketekunan individual dalam usaha untuk mencapai satu tujuan.
Kata motif seringkali diartikan juga dengan istilah dorongan. Dorongan atau tenaga tersebut merupakan gerak jiwa dan jasmani untuk berbuat. Jadi motif tersebut merupakan suatu driving force yang menggerakkan manusia untuk bertingkah laku, dan di dalam perbuatanya itu mempunyai tujuan tertentu. Tidak bisa dipungkiri, setiap tindakan yang dilakukan oleh manusia selalu dimulai dengan motivasi (niat).
Beberapa pengertian motivasi menurut beberapa para ahli manajemen sumber daya manusia, di antaranya yaitu:
1.      Pengertian motivasi menurut Wexley & Yukl adalah pemberian atau penimbulan motif, dapat pula diartikan hal atau keadaan menjadi motif.


5
2.      Sedangkan menurut Mitchell motivasi mewakili proses-proses psikologikal, yang menyebabkan timbulnya, diarahkanya, dan terjadinya persistensi kegiatan-kegiatan sukarela yang diarahkan ke tujuan tertentu.
3.      Gray lebih suka menyebut pengertian motivasi sebagai sejumlah proses, yang bersifat internal, atau eksternal bagi seorang individu, yang menyebabkan timbulnya sikap antusiasme dan persistensi, dalam hal melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu.
4.      Morgan mengemukakan bahwa motivasi bertalian dengan tiga hal yang sekaligus merupakan aspek-aspek dari motivasi. Ketiga hal tersebut adalah: keadaan yang mendorong tingkah laku, tingkah laku yang di dorong oleh keadaan tersebut, dan tujuan dari pada tingkah laku tersebut.
5.      T. Hani Handoko mengemukakan bahwa motivasi adalah keadaan pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan tertentu guna mencapai tujuan.
6.      Soemanto secara umum mendefinisikan motivasi sebagai suatu perubahan tenaga yang ditandai oleh dorongan efektif dan reaksi-reaksi pencapaian tujuan. Karena kelakuan manusia itu selalu bertujuan, kita dapat menyimpulkan bahwa perubahan tenaga yang memberi kekuatan bagi tingkah laku untuk mencapai tujuan, telah terjadi di dalam diri seseorang.

Dari pengertian-pengertian motivasi diatas maka dapat disimpulkan bahwa motivasi merupakan suatu keadaan atau kondisi yang mendorong, merangsang atau menggerakan seseorang untuk melakukan sesuatu atau kegiatan yang dilakukannya sehingga ia dapat mencapai tujuannya (www.anneahira.com/motivasi/pengertian-motivasi.htm).

B  Teori Motivasi
Beberapa teori tentang motivasi, antara lain :
1.      Teori Abraham Maslow (Teori Kebutuhan)
Teori motivasi yang dikembangkan oleh Abraham Maslow pada intinya berkisar pada pendapat bahwa manusia mempunyai lima tingkat atau hierarki kebutuhan, yaitu :
    1. Fisiologis
    2. Keamanan, keselamatan dan perlindungan
    3. Sosial, kasih sayang, rasa dimiliki
    4. Penghargaan, rasa hormat internal seperti harga diri, prestasi
    5. Aktualisasi diri, dorongan untuk menjadi apa yang mampu ia menjadi.
Menurut Maslow, jika seorang pimpinan ingin memotivasi seseorang, maka ia perlu memahami sedang berada pada anak tangga manakah posisi bawahan dan memfokuskan pada pemenuhan kebutuhan-kebutuhan itu atau kebutuhan dia atas tingkat itu.

2.      Teori Motivasi X dan Y
Teori ini dikemukakan oleh Douglas McGregor yang menyatakan bahwa dua pandangan yang jelas berbeda mengenai manusia, pada dasarnya satu negatif (teori X) yang mengandaikan bahwa kebutuhan order rendah mendominasi individu, dan satu lagi positif (teori Y) bahwa kebutuhan order tinggi mendominasi individu.
3.      Teori Motivasi -Higiene
Dikemukakan oleh psikolog Frederick Herzberg, yang mengembangkan teori kepuasan yang disebut teori dua faktor tentang motivasi. Dua faktor itu dinamakan faktor yang membuat orang merasa tidak puas atau faktor-faktor motivator iklim baik atau ekstrinsik-intrinsik tergantung dari orang yang membahas teori tersebut. Faktor-faktor dari rangkaian ini disebut pemuas atau motivator yang meliputi:
a.       Prestasi (achievement)
b.      Pengakuan (recognition)
c.       Tanggung Jawab (responsibility)
d.      Kemajuan (advancement)
e.       Pekerjaan itu sendiri (the work itself)
f.       Kemungkinan berkembang (the possibility of growth)



4.      Teori Motivasi Kebutuhan McClelland
Teori ini memfokuskan pada tiga kebutuhan, yaitu :
a.             Prestasi (achievement)
b.            Kekuasaan (power)
c.             Afiliasi (pertalian)
5.      Teori Motivasi Harapan -Victor Vroom
Teori ini berargumen bahwa kekuatan dari suatu kecenderungan untuk bertindak dengan suatu cara tertentu bergantung pada kekuatan dari suatu pengharapan bahwa tindakan itu akan diikuti oleh suatu keluaran tertentu, dan pada daya tarik dari keluaran bagi individu tersebut.
Teori pengharapan mengatakan seorang karyawan dimotivasi untuk menjalankan tingkat upaya yang tinggi bila ia meyakini upaya akan menghantarkan ke suatu penilaian kinerja yang baik, suatu penilaian yang baik akan mendorong ganjaran-ganjaran organisasional, seperti bonus, kenaikan gaji, atau promosi dan ganjaran itu akan memuaskan tujuan pribadi karyawan tersebut.
6.      Teori Motivasi Keadilan
Teori ini didasarkan pada asumsi bahwa orang-orang dimotivasi oleh keinginan untuk diperlakukan secara adil dalam pekerjaan. Individu bekerja untuk mendapat tukaran imbalan dari organisasi.


7.      Reinforcement theory
Teori motivasi ini tidak menggunakan konsep suatu motif atau proses motivasi. Sebaliknya teori ini menjelaskan bagaimana konsekuensi perilaku dimasa yang lalu mempengaruhi tindakan dimasa yang akan datang dalam proses pembelajaran.
Seberapa kuat motivasi yang dimiliki individu, maka akan banyak menentukan  kualitas perilaku yang ditampilkannya, baik dalam konteks belajar, bekerja maupun dalam kehidupan lainnya. (www.anneahira.com/motivasi/teori-motivasi.htm)

C  Jenis dan Sifat Motivasi
Para ahli psikologi berusaha menggolong-golongkan motif-motif yang ada dalam diri manusia atau suatu organisme, ke dalam beberapa golongan menurut pendapatnya masing-masing. Woodworth menggolongkan dan membagi motif-motif tersebut menjadi tiga jenis :
1.   Kebutuhan-kebutuhan organis (Organic Motive)
Motif ini berhubungan dengan kebutuhan-kebutuhan bagian dalam tubuh (kebutuhan-kebutuhan organis), seperti : lapar/haus, kebutuhan bergerak dan beristirahat/tidur, dan sebagainya.




2.   Motif-motif darurat (Emergency Motive)
Motif ini timbul jika situasi menuntut timbulnya tindakan yang cepat dan kuat karena perangsang dari luar yang menarik manusia atau suatu organisme. Contoh motif ini antara lain : melarikan diri dari bahaya, berkelahi dan sebagainya.
3.   Motif-motif obyektif (Objective Motive)
Motif obyektif adalah motif yang diarahkan/ditujukan ke suatu obyek atau tujuan tertentu di sekitar kita. Motif ini timbul karena adanya dorongan dari dalam diri kita (kita menyadarinya). Contoh : motif menyelidiki, menggunakan lingkungan.
Selain pengklasifikasian di atas, Burton menggolongkan/ membagi motif-motif tersebut menjadi dua, yaitu motif intrinsik dan motif ekstrinsik.
1.   Motif Intrinsik
Motif intrinsik adalah motif yang timbul dari dalam seseorang untuk berbuat sesuatu atau sesuatu yang mendorong bertindak sebagaimana  nilai-nilai yang terkandung di dalam obyeknya itu sendiri.





Dalam bukunya, Steen V. Owen dan kawan-kawan mengatakan bahwa “They object to the view that human beings are passive creatures given only to racting. They take the position that we actively initiate and regulate our behavior, and that motivation is primarily internal.” Bahwa manusia adalah makhluk pasif yang hanya memberikan untuk beraksi.
Motivasi intrinsik merupakan pendorong bagi aktivitas dalam pengajaran dan dalam pemecahan soal. Keinginan untuk menambah pengetahuan dan wawasan, keinginan untuk memahami sesuatu hal, merupakan faktor intrinsik yang ada pada semua orang
2.   Motif Ekstrinsik
Motif ekstrinsik adalah motif yang timbul dari luar/lingkungan. Motivasi ekstrinsik dalam belajar antara lain berupa penghargaan, pujian, hukuman, celaan atau ingin meniru tingkah laku seseorang.

D  Prinsip Motivasi Belajar
Belajar didefinisikan sebagai perubahan perilaku serta diakibatkan oleh pengalaman. Belajar adalah suatu hal yang membedakan antara manusia dan binatang. Ada banyak perilaku perubahan pengalaman, serta dianggap sebagai faktor-faktor penyebab dasar dalam belajar. Para ahli pendidikan dan psikolog sependapat bahwa motivasi amat penting untuk keberhasilan belajar.
Pembahasan motivasi belajar tidak bisa terlepas dari masalah-masalah psikologi dan fisiologi, karena keduanya ada saling keterkaitan. Yang perlu di pahami dalam prinsip-prinsip motivasi belajar adalah sebagai berikut:
1        Memuji lebih baik daripada mencela.
Perlu diketahui bahwa manusia cenderung akan mengulangi perbuatan yang mendapat pujian atau apresiasi dari pihak lain
2        Memenuhi kebutuhan psikologi
3        Motivasi intrinsik lebih efektif daripada ekstrinsik
4        Keserasian antara motivasi
5        Mampu manjelaskan tujuan pembelajaran
6        Menumbuhkan perilaku yang lebih baik
7        Mampu mempengaruhi lingkungan
8        Bisa diaplikasikan dalam wujud yang nyata.
Dalam proses pembelajaran, meningkatkan motivasi belajar melibatkan pihak-pihak sebagai berikut:
1        Siswa
Siswa bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri untuk meningkatkan motivasi belajar pada dirinya agar memperoleh hasil belajar yang memuaskan.  Motivasi berupa tekad yang kuat dari dalam diri siswa untuk sukses secara akademis, akan membuat proses belajar semakin giat dan penuh semangat.

2        Guru
Guru bertanggungjawab memperkuat motivasi belajar siswa lewat penyajian bahan pelajaran, sanksi-sanksi dan hubungan pribadi dengan siswanya. Dalam hal ini guru dapat melakukan apa yang disebut dengan menggiatkan anak dalam belajar. Usaha-usaha yang digunakan dalam menggiatkan  adalah :
a.       Mengemukakan pertanyaan
b.      Memberi imbalan
c.       Memberi hadiah
d.      Memberi hukuman/sanksi
Kreativitas serta aktivitas guru harus mampu menjadi inspirasi bagi para siswanya. Sehingga siswa akan lebih terpacu motivasinya untuk belajar, berkarya, dan berkreasi.
3        Orang tua atau keluarga dan lingkungan
Tugas memotivasi belajar bukan hanya tanggungjawab guru semata, tetapi orang tua juga berkewajiban memotivasi anak untuk lebih giat belajar. Selain itu motivasi sosial dapat timbul dari orang-orang lain di sekitar siswa, seperti dari tetangga, sanak saudara, atau teman bermain. 
Fungsi keluarga adalah sebagai motivasi utama bagi peserta didik, karena memiliki intensitas yang lebih tinggi untuk menanamkan motif-motif tertentu bagi proses pembelajaran anak.

Hal paling mendasar yang digunakan sebagai motivasi dasar dalam islam adalah, pentingnya menanamkan unsur-unsur ideologi dalam proses pembelajaran, sehingga dalam proses perjalanan pembelajaran siswa tidak mengalami kegoncangan jiwa yang bisa menghambat hasil dari pendidikan itu sendiri.

E  Problematika Motivasi Siswa dalam Belajar
Pemimpin, dalam hal ini guru, adalah seorang yang mampu mempengaruhi orang lain, dengan beberapa persyaratan, antara lain, memiliki intelektualitas yang tingi, mampu melakukan hubungan sosial yang baik, kematangan emosional, fisik yang baik, imajiner dan mau berkerja keras. Akan tetapi dalam kenyataan di lembaga pendidikan  jarang kita jumpai seorang guru yang memiliki kriteria di atas.
Ada beberapa persyaratan yang harus dimaksimalkan dalam memecahkan problematika tersebut, karena dalam kenyataanya manusia selalu mengharapkan adanya nasehat dan petunjuk dari orang lain sebagai bentuk kebutuhan primer dari fitrah manusia itu sendiri. Diantara problematika yang perlu di antisipasi dalam lembaga pendidikan kita adalah:
1    Kurangnya Memadukan motif-motif kuat yang sudah ada
Misalnya motif untuk menjadi sarjana tidak dipadukan dengan motif untuk menonjolkan diri yang kebetulan ada pada diri siswa agar berhasil dalam belajar.
2    Tidak adanya kejelasan  tujuan yang hendak dicapai
Semakin jelas tujuan belajar semakin kuat motif untuk mencapainya, setidak-tidaknya semakin efektif berbuat. Oleh karena itu sangat ideal apabila guru merumuskan dengan jelas tujuan belajar.
3    Tidak adanya rumusan tujuan sementara
Suatu kegiatan yang mempunyai tujuan yang jauh dapat dipenggal-penggal hingga didapat tujuan sementara atau tujuan jangka pendek.
4    Kurangnya Merangsang pencapaian kegiatan
Semakin dekat tujuan, semakin kuat motif untuk mencapainya. “Kedekatan tujuan” dapat dilakukan dengan membuat tujuan sementara, sebab mencapai tujuan sementara menyadarkan siswa dalam usaha mencapainya.
5    Tidak adanya situasi persaingan
Pada umumnya dalam diri setiap individu ada usaha untuk menonjolkan diri atau ingin dihargai. Kecenderungan ini dapat disalurkan dalam persaingan sehat di mana guru menciptakan suasana setiap siswa giat berusaha.
6    Kurangnya menumbuhkan persaingan dengan diri sendiri.
 Siswa diberi tugas yang berbeda, sehingga siswa itu sendiri yang akan melihat tugas mana yang paling baik hasilnya. Dengan demikian dia dapat mempergunakan upaya yang digunakan pada waktu mengerjakan pekerjaan yang paling baik hasilnya.

7    Kurang maksimalnya laporan hasil yang dicapai
Apabila telah selesai pekerjaan siswa maka beritahukan hasilnya sehingga dia semakin giat mencapainya lagi dengan lebih baik. Inilah keuntungan yang utama bila hasil pekerjaan diberitahukan pada setiap orang.
8    Tidak adanya  contoh yang positif dari pendidik
Guru yang mengharapkan sesuatu dari siswanya harus juga memperlihatkan yang dimintainya itu terpancang dalam diri guru. Dengan demikian siswa menilai guru tersebut bekerja baik. Hal ini menimbulkan kegairahan belajar dalam diri siswa. Lebih jelasnya, seorang guru harus mempunyai strategi pendekatan yang mampu mempengaruhi siswa dalam belajar.

F  Peran Guru dalam Membangkitkan Motivasi Belajar Siswa
Bagi siswa yang selalu memperhatikan materi pelajaran yang diberikan, bukanlah masalah bagi guru. Karena di dalam diri siswa tersebut ada motivasi, yaitu motivasi intrinsik. Siswa yang demikian biasanya dengan kesadaran sendiri memperhatikan penjelasan guru. Rasa ingin tahunya lebih banyak terhadap materi pelajaran yang diberikan. Berbagai gangguan yang ada disekitarnya, kurang dapat mempengaruhinya agar memecahkan perhatiannya.

Lain halnya bagi siswa yang tidak ada motivasi di dalam dirinya, maka motivasi ekstrinsik yang merupakan dorongan dari luar dirinya mutlak diperlukan. Di sini tugas guru adalah membangkitkan motivasi peserta didik sehingga ia mau melakukan belajar.
Ada beberapa strategi yang bisa digunakan oleh guru untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa, sebagai berikut:
1.      Menjelaskan tujuan belajar ke peserta didik.
Pada permulaan belajar mengajar seharusnya terlebih dahulu seorang guru menjelaskan mengenai Tujuan Instruksional Khusus yang akan dicapainya kepada siwa. Makin jelas tujuan maka makin besar pula motivasi dalam belajar.
2.       Hadiah
Berikan hadiah untuk siswa yang berprestasi. Hal ini akan memacu semangat mereka untuk bisa belajar lebih giat lagi. Di samping itu, siswa yang belum berprestasi akan termotivasi untuk bisa mengejar siswa yang berprestasi.
3.      Saingan/kompetisi
Guru berusaha mengadakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya.
4.      Pujian
Sudah sepantasnya siswa yang berprestasi untuk diberikan penghargaan atau pujian. Tentunya pujian yang bersifat membangun.
5.      Hukuman
Hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya.
6.      Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar
Strateginya adalah dengan memberikan perhatian maksimal ke peserta didik.
7.      Membentuk kebiasaan belajar yang baik .
8.      Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok.
9.      Menggunakan metode yang bervariasi, dan
10.  Menggunakan media yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran

2        Prestasi Belajar Matematika
   A  Prestasi Belajar
Menurut Djalal (1986: 4) bahwa “prestasi belajar siswa adalah gambaran kemampuan siswa yang diperoleh dari hasil penilaian proses belajar siswa dalam mencapai tujuan pengajaran”. Sedangkan menurut Kamus bahasa Indonesia Millenium (2002: 444) ”prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai atau dikerjakan”. Prestasi belajar menurut Hamalik (1994: 45) adalah prestasi belajar yang berupa adanya perubahan sikap dan tingkah laku setelah menerima pelajaran atau setelah mempelajari sesuatu. Ada banyak pengertian tentang prestasi belajar. Berdasarkan pengertian di atas maka yang dimaksudkan dengan prestasi belajar adalah hasil belajar/ nilai pelajaran sekolah  yang dicapai oleh siswa berdasarkan kemampuannya/usahanya dalam belajar.
Berdasarkan pengertian di atas maka yang dimaksudkan dengan prestasi belajar adalah hasil belajar/ nilai pelajaran sekolah  yang dicapai oleh siswa berdasarkan kemampuannya/usahanya dalam belajar.

Prestasi belajar adalah hasil dari pengukuran serta penilaian usaha belajar (Tirtonegoro, 1984 : 43). Dalam setiap perbuatan manusia untuk mencapai tujuan, selalu diikuti oleh pengukuran dan penilaian, demikian pula halnya dengan proses pembelajaran. Dengan mengetahui prestasi belajar, dapat diketahui kedudukan anak di dalam kelas, apakah anak termasuk kelompok pandai, sedang atau kurang. Prestasi belajar ini dinyatakan dalam bentuk angka, huruf maupun simbol pada periode tertentu, misalnya tiap caturwulan atau semester. Nasution (2001 : 439) menyatakan bahwa prestasi belajar adalah penguasaan seseorang terhadap pengetahuan atau keterampilan tertentu dalam suatu mata pelajaran, yang lazim diperoleh dari nilai tes atau angka yang diberikan guru. Bila angka yang diberikan guru rendah, maka prestasi seseorang dianggap rendah.
Menurut Wirawan seperti dikutip Supartha  (2004 : 34) mengatakan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai seseorang dalam usaha belajar yang dilakukan dalam periode tertentu. Prestasi belajar dapat dipakai sebagai ukuran untuk mengetahui materi pelajaran yang telah diajarkan atau  dipelajari.
Sehubungan dengan itu, Masrun dan Martaniah (dalam Supartha, 2004 : 34) menyatakan bahwa kegunaan prestasi belajar diantaranya adalah : (1) untuk mengetahui efisiensi hasil belajar yang dalam hal ini diharapkan mendorong siswa untuk belajar lebih giat, (2) untuk menyadarkan siswa terhadap tingkat kemampuannya; dengan melihat hasil tes atau hasil ujiannya siswa dapat menyadari kelemahan dan kelebihannya sehingga dapat mengevaluasi dan bagaimana caranya belajar selama ini, (3) untuk petunjuk usaha belajar siswa, dan (4) untuk dijadikan dasar untuk memberikan penghargaan.
Melihat dari pengertian prestasi atau hasil belajar di atas, dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah perubahan tingkah laku yang berwujud perubahan ilmu pengetahuan, keterampilan motorik, sikap dan nilai yang dapat diukur secara aktual sebagai hasil dari proses belajar. Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, prestasi belajar dalam penelitian ini secara konseptual diartikan sebagai hasil kegiatan belajar yang dinyatakan dalam bentuk angka yang mencerminkan hasil yang sudah dicapai oleh setiap anak baik berupa kemampuan kognitif, afektif, maupun psikomotor yang dapat diukur dari tes atau hasil ujian siswa.

B  Hakikat Pretasi Belajar
Pengertian belajar dari Cronbach (dalam Djamarah, 2000:12) mengemukakan bahwa learning is shown by change in behaviour as a result of experience (belajar sebagai suatu aktivitas yang ditunjukkan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman). Sementara menurut Wittig (dalam Syah, 2003 : 65-66), belajar sebagai any relatively permanen change in an organism behavioral repertoire that accurs as a result of experience (belajar adalah perubahan yang relatif menetap yang terjadi dalam segala macam/ keseluruhan tingkah laku suatu organisme sebagai hasil pengalaman).
Belajar lebih ditekankan pada proses kegiatannya dan proses belajar lebih ditekankan pada hasil belajar yang dicapai oleh subjek belajar atau siswa. Hasil belajar dari kegiatan belajar disebut juga dengan prestasi belajar. Hasil atau prestasi belajar subjek belajar atau peserta didik dipakai sebagai ukuran untuk mengetahui sejauh mana peserta didik dapat menguasai bahan pelajaran yang sudah dipelajari. Menurut Woodworth dan Marquis (dalam Sri, 2004 : 43) prestasi belajar adalah suatu kemampuan aktual yang dapat diukur secara langsung dengan tes.
Dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar merupakan kemampuan aktual yang dapat diukur dan berwujud penguasaan ilmu pengetahuan, sikap, keterampilan, dan nilai-nilai yang dicapai oleh siswa sebagai hasil dari proses belajar mengajar di sekolah. Dengan kata lain, prestasi belajar merupakan hasil yang dicapai siswa dari perbuatan dan usaha belajar.

C  Prestasi Belajar Matematiaka
Seorang siswa,  bagi sebagian orang hanya didefinisikan dan dilihat dari satu sisi. Sisi yang nampak dan menjadi tolok ukur biasanya hanya pada nilai yang diperoleh seorang anak dari ujian yang ditempuhnya. Baik itu ujian semester maupun ujian dalam bentuk ulangan harian siswa. Namun sebenarnya, pengertian prestasi belajar matematika bukan sekedar bisa dilihat dari sudut yang sempit tersebut. Bahwa nilai ujian bukanlah sebuah ukuran, apakah seorang anak bisa dikatakan memiliki prestasi dalam bidang pelajaran matematika.
Nilai ujian hanyalah salah satu cermin namun bukan satu-satunya alat ukur atau indikator tingkat prestasi seorang siswa. Karena jika hasil ujian yang menjadi satu-satunya alat ukur tingkat prestasi siswa, hal tersebut bisa dimanipulasi. Seorang anak bisa saja mengerjakan soal ujian dengan bantuan rekannya yang lebih pintar. Bisa pula karena bantuan dari guru, yang biasanya memiliki kecenderungan mengangkat nilai siswa demi demi membantu nilai belajar siswa tersebut. Alasan kemanusiaan biasanya menjadi pertimbangan seorang guru dalam mengangkat nilai belajar seorang siswa.
Pada dasarnya, dalam proses pembelajaran matematika ada beberapa kriteria sebagai alat ukur keberhasilan pendidikan. Ada tiga elemen yang menjadi sebuah indikator apakah seorang anak sudah mampu menguasai pelajaran matematika atau belum. Ketiga elemen tersebut adalah:
1. Pemahaman konsep
Dalam taraf ini, seorang anak akan diajarkan untuk mengenal konsep dasar alat belajar matematika. Seperti mengenal dan memahami tentang sudut, jenis sudut, penentuan sudut, mengukur sudut dan menggambar sudut. Atau konsep lain yang merupakan basis pembelajaran teori matematika.
2. Pemahaman penalaran dan
Komunikasi Dalam hal ini, seorang siswa akan belajar untuk memahami tentang logika matematika yang ditelaah menurut rasio dan daya nalar. Selain itu, menjabarkan semua perhitungan matematika menjadi sebuah bahasa yang bisa disampaikan secara verbal.

3. Pemecahan masalah
Seorang siswa pada taraf ini akan diajak untuk mengaplikasikan semua teori matematika yang dipelajarinya ke dalam kasus nyata yang ada di sekitarnya. Seperti pelajaran tentang harga dan menghitung jarak sebuah kota.


D  Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Perubahan tingkah laku sebagai hasil yang dicapai yang berwujud prestasi belajar dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor yang mempengaruhi prestasi belajar dapat berupa : (1) faktor belajar yang berasal dari luar diri si pelajar yaitu lingkungan (lingkungan alami dan lingkungan sosial), instrumental (kurikulum, program, sarana dan guru), (2) faktor yang berasal dari dalam diri si pelajar faktor fisiologis (kondisi fisik secara umum, kondisi panca indera dan faktor psikologis  (minat, kecerdasan, bakat, motivasi dan kemampuan kognitif), (Suryabrata, 1987: 233), dan Purwanto (2000) membagi kondisi belajar atas kondisi belajar interen dan kondisi belajar eksteren.
Sardiman AM (1999) ; ada dua faktor yang mempengaruhi prestasi belajar yaitu : faktor yang berasal dari dalam siswa (internal), faktor internal ini biasanya berupa minat, motivasi, kondisi fisik sedangkan faktor yang berasal dari luar diri siswa (eksternal), biasanya berupa : hadiah, guru/dosen, keluarga.
Dari pengertian di atas  jelaslah bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi belajar ada dua macam yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah kondisi belajar yang mempengaruhi perbuatan belajar berasal dari diri anak itu sendiri Natawijaya, 1979 : 30) , yang antara lain adalah: motif, kematangan, kondisi jasmani, keadaan alat indera, minat dan kemampuan. Faktor eksternal dalam belajar adalah faktor yang berasal dari luar diri pelajar seperti penghargaan, hadiah, maupun hukuman.
Belajar akan lebih berhasil bila individu yang belajar diberikan hadiah yang dapat memperkuat stimulus dan respon. Soeitoe (1987 :105) mengatakan suatu tingkah laku dalam situasi tertentu memberikan kepuasan selalu akan diasosiasikan.        Suasana dan tempat belajar juga mempengaruhi individu dalam berlajar baik di sekolah dan di luar sekolah. Keadaan udara, cuaca, dan tempat belajar perlu diatur jangan terlalu dingin dan jangan terlalu panas. Disamping itu cahaya juga penting sekali bagi anak-anak yang berjam-jam lamanya harus menulis dan membaca dengan penuh konsentrasi. Ruangan yang tenang memberikan suasana yang gembira dari pada ruangan yang gelap.  Cahaya dapat diperoleh baik dari sebelah kiri maupun sebelah kanan (Nasution, 1974 : 87).
Muhammad Surya (1979), menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, antara lain dari sudut si pembelajar,  proses belajar dan dapat pula dari sudut situasi belajar. Dari sudut si pembelajar (siswa), prestasi belajar seseorang dipengaruhi antara lain oleh kondisi kesehatan jasmani siswa, kecerdasan, bakat, minat dan motivasi, penyesuaian diri serta kemampuan berinteraksi siswa.
Sedangkan yang bersumber dari proses belajar, maka kemampuan guru dalam mengelola proses pembelajaran sangat menentukan prestasi belajar siswa. Guru yang menguasai materi pelajaran dengan baik, menggunakan metode dan media pembelajaran yang tepat, mampu mengelola kelas dengan baik dan memiliki kemampuan untuk menumbuh kembangkan motivasi belajar siswa untuk belajar, akan memberi pengaruh yang positif terhadap prestasi belajar siswa untuk belajar. Sedangkan situasi belajar siswa, meliputi situasi lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat sekitar.

E  Penilaian Prestasi Belajar
Untuk mengetahui berhasil tidaknya seseorang dalam belajar perlu dilakukan penilaian (evaluasi). Dengan penilaian dapat diketahui kemampuan, kesanggupan, penguasaan seseorang tentang pengetahuan keterampilan dan nilai-nilai. Penilaian pendidikan adalah penilaian tentang perkembangan dan kemajuan siswa yang berkenaan dengan penguasaan bahan pelajaran yang disajikan kepada mereka serta nilai-nilai yang terdapat dalam kurikulum, (Harahap dalam Supartha, 2004:36).
 Tujuan penilaian adalah untuk mengetahui dan mengumpulkan informasi terhadap perkembangan dan kemajuan, dalam rangka mencapai tujuan yang ditetapkan dalam kurikulum. Fungsi penilaian dapat dikatakan sebagai suatu evaluasi yang dilakukan sekolah mempunyai tiga fungsi pokok yang penting, yaitu: (1) untuk mengetahui perkembangan dan kemajuan, dalam rangka waktu tertentu, (2) untuk mengetahui sampai di mana perbaikan suatu metode yang digunakan guru dalam mendidik dan mengajar, dan (3) dengan mengetahui kesalahan dan kekurangan yang terdapat dalam evaluasi selanjutnya dapat diusahakan perbaikan, Purwanto (2000 : 10).
Pendapat lain menyatakan bahwa fungsi penilaian dalam proses belajar mengajar antara lain: (1) untuk memberikan umpan balik kepada guru sebagai dasar untuk memperbaiki proses belajar mengajar serta memperbaiki belajar bagi murid, (2) untuk memberikan angka yang tepat tentang kemajuan atau hasil belajar dari murid, (3) untuk menempatkan murid dalam situasi belajar mengajar yang tepat sesuai dengan tingkat kemampuan yang dimiliki oleh murid, dan (4) untuk mengenal latar belakang murid yang mengalami kesulitan belajar yang dapat digunakan sebagai dasar untuk memecahkan kesulitan itu, (Harahap dalam Supartha, 2004:37).
Penilaian dalam pendidikan ada beberapa jenis, yaitu penilaian formatif, sumatif, penempatan, dan diagnostik, (Harahap dalam Supartha, 2004:37). Di samping itu, dapat juga dikatakan bahwa jenis-jenis penilaian sebagai berikut: (1) ulangan harian mencakup bahan kajian satu pokok bahasan atau beberapa pokok bahasan untuk memperoleh umpan balik bagi guru, (2) ulangan umum merupakan ulangan yang mencakup seluruh pokok bahasan, konsep, tema, atau unit dalam catur wulan atau semester yang bersangkutan dalam kelas yang sama.
Hasil ulangan umum selain untuk mengetahui pencapain siswa juga digunakan untuk keperluan laporan kepada orang tua siswa dan keperluan administrasi lain, bentuk alat penilaiannya adalah berupa pilihan ganda dan sering dilakukan secara bersama-sama pada suatu wilayah maupun wilayah tingkat I, (3) ujian akhir, ujian akhir ada yang bersifat nasional, ada yang bersifat regional, dan ada yang bersifat lokal. Hasil penilaian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan kelulusan siswa dan digunakan untuk pemberian surat tanda tamat belajar (Depdikbud, 1997 : 7).
Teknik dan alat penilaian yang sering digunakan kepala sekolah adalah: (1) teknik tes, terdiri dari tes tertulis, yaitu: tes objektif dan tes uraian, tes lisan, dan tes perbuatan, (2) teknik non tes yang dilaksanakan melalui observasi maupun pengamatan (Depdiknas, 2000 : 4).

3  Hubungan Antara Motivasi Belajar dengan Prestasi Belajar Siswa
Motivasi belajar adalah dorongan yang ada pada seseorang untuk melakukan kegiatan belajar. Motivasi belajar sangat penting peranannya bagi siswa dalam usaha mencapai prestasi belajar yang tinggi. Siswa yang memiliki motivasi belajar yang tinggi, cenderung menunjukkan semangat dan kegairahan dalam mengikuti pembelajaran, mereka biasanya kelihatan lebih menaruh perhatian bersungguh-sungguh dalam belajar dan aktif berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran, baik di kelas maupun di luar kelas.
Siswa yang memiliki motivasi belajar yang tinggi akan lebih tekun, bersemangat, lebih tahan dan memiliki ambisi yang lebih tinggi dalam mencapai prestasi belajar yang lebih baik, dibandingkan dengan siswa yang kurang atau tidak memiliki motivasi belajar. Mereka yang tidak memiliki motivasi belajar akan kelihatan kurang atau tidak bergairah dalam belajar maupun mengikuti pembelajaran di kelas, tidak menaruh perhatian terhadap pelajaran yang dipelajari, apatis dan tidak berpartisipasi aktif dalam belajar. Kondisi siswa yang kurang memiliki motivasi belajar sudah tentu tidak mampu menghasilkan prestasi yang memuaskan.
Dalam kaitannya dengan materi pelajaran matematika, selama ini siswa cenderung tidak memiliki minat untuk mempelajarinya. Hal ini tidak terlepas dari kurangnya motivasi yang diberikan oleh pengajar dalam proses belajar mengajar. Berdasarkan kerangka berpikir tersebut di atas, maka dapat diduga adanya hubungan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar matematika siswa.

4  Hipotesis Penelitian

Untuk menjawab permasalahan yang diajukan, maka jawaban sementara yang akan dibuktikan kebenarannya adalah: “Terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Matematika di kelas VII MTs Miftahul Ulum Sitiaji Kecamatan Sukosewu Kabupaten Bojonegoro.



BAB III
METODE PENELITIAN

A.    Tempat dan Waktu Penelitian
a)      Tempat
Penelitian ini dilakukan di MTs. Miftahul Ulum Desa Sitiaji                     Kabupaten Bojonegoro, di Jalan Raya Ds. Sitiaji. Karena letaknya yang strategis dan dekat dengan rumah peneliti.
b)      Waktu
Waktu penelitian adalah bulan Juli, karena materinya diberikan pada semester ganjil tahun pelajaran 2011/2012.

B.     Populasi dan Sampel
1.      Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono, 2009:61). Populasi dalam penelitian adalah siswa kelas VII MTs. Daerah Sitiaji yang berjumlah 35 siswa, yang terdiri dari 14 siswa putra dan   21 siswa putri.



2.      Sampel
Menurut Sugiyono (2009: 62) sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang di miliki populasi. Sedang menurut Suharsimi Arikunto (1996: 117) sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang di teliti. Berdasarkan pengertian tersebut dapat di simpulkan sampel adalah sebagian dari jumlah populasi. Berhubung jumlah populasi kurang dari seratus, maka penelitian ini tidak di ambil sampel, jadi seluruh populasi yang ada akan dimasukan ke dalam penelitian. Langkah ini diambil berdasarkan pernyataan Arikunto (1996: 120) untuk sekedar ancer-ancer apabila subyeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitianya merupakan penelitian populasi, selanjutnya jika jumlah subjeknya besar dapat diambil antara 10-15% atau 20-25% atau lebih.                          
C.    Variabel Penelitian
Variabel-variabel dalam penelitian ini adalah:
1.      Variabel Bebas (X)
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah motivasi belajar yang di berikan kepada para siswa.
2.      Variabel Terikat (Y)
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah prestasi belajar siswa yang diperoleh dalam bentuk nilai tes setelah ada perlakuan.


D.    Devinisi Operasional Variabel
1 Motivasi Belajar
  Motivasi belajar adalah dorongan atau semangat yang di berikan kepada para siswa yang diberikan dalam bentuk bimbingan belajar dan melakukan kegiatan yang positif.
2 Prestasi Belajar Matematika
Prestasi belajar matematika adalah skor total yang diperoleh pada tes prestasi belajar matematika. Sedangkan tes prestasi belajar matematika adalah tes yang dirancang untuk mengukur seberapa jauh pemahaman siswa pada mata pelajaran matematika menurut silabus atau kurikulum.

E.     Instrumen Penelitian
      1. Instrumentasi
Sesuai dengan variabel dalam penelitian ini maka instrument terdiri dari tes dan angket. Tes digunakan untuk mengukur prestasi belajar matematika siswa. Sedangkan angket digunakan untuk mencari data tentang motivasi belajar siswa.
a. Metode Angket atau Kuesioner
Menurut Suharsini Arikunto (1996: 24) angket adalah sebuah pernyataan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal lain yang diketahuinya. Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan angket adalah alat pengumpulan data dengat menggunakan pertanyaan-pertanyaan tertulis yang harus dijawab dengan tertulis.
Angket motivasi belajar siswa akan mengungkap motivasi yang diberikan kepada anak. Angket berisi pertanyaan beserta alternatif jawaban dengan menggunakan 4 butir pilihan. Penyekoran untuk setiap pernyataan dalam angket adalah 4 sampai 1 untuk jawaban selalu, seringkali, kadang-kadang dan tidak pernah. Angket motivasi dari belajar siswa terdiri dari 25 pernyataan.
b. Tes Prestasi Belajar Matematika
Tes prestasi belajar matematika berupa tes tertulis berbentuk objektif pilihan ganda dengan 4 alternatif jawaban. Pilihan terhadap tes objektif pilihan ganda dimaksudkan untuk memenuhi objektifitas dalam penilaian. Banyak soal untuk tes prestasi belajar matematika adalah 20 butir soal  jika jawaban benar diberi skor 1 dan jika jawaban salah diberi skor 0. Oleh karena tes matematika ini dalam bentuk objektif maka hanya mencakup tiga aspek kognitif yaitu ingatan, pemahaman, dan penerapan (aplikasi).
Oleh karena itu, persentase banyaknya butir tes menurut pokok bahasan adalah:
¾    Memahami sifat-sifat operasi bilangan bulat              =  40%
¾    Melakukan operasi hitung bilangan bulat                   =  60%
Mengingat bahwa matematika bukan hanya merupakan mata pelajaran hafalan, maka dalam tes ini proporsi untuk aspek ingatan lebih sedikit daripada aspek pemahaman dan ingatan. Oleh karena itu, persentase banyaknya soal pada tiap aspek adalah:
Aspek ingatan             =  25%
Aspek pemahaman      =  45%
Aspek penerapan         = 30%
Banyaknya soal untuk tes prestasi belajar matematika adalah 20 soal.

2. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan memberikan tes prestasi belajar matematika, angket motivasi belajar kepada seluruh siswa kelas VII MTs Miftahul Ulum Sitiaji.
Data prestasi belajar siswa diperoleh dengan mengujikan tes prestasi belajar matematika yang dilaksanakan selama 60 menit. Pengumpulan data motivasi belajar dilakukan dengan memberikan angket motivasi belajar siswa yang dilaksanakan selama 15 menit.

3. Uji Validitas dan Reabilitas
Instrument disusun dan dikembangkan oleh peneliti dengan mengacu pada diskripsi teoritis yang ada. Untuk angket motivasi belajar siswa, validitas yang diperlukan adalah yang diperoleh melalui bimbingan dari dosen pembimbing, sehingga diharapkan akan diperoleh variabel dan indikator yang akan dikembangkan menjadi kisi-kisi.


Instrument yang telah disusun berdasarkan kisi-kisi perlu diuji cobakan terlebih dahulu, sebelum untuk penelitian. Selanjutnya data dari hasil coba, dilakukan analisis validitas dan realibilitas instrument.
a. Uji Validitas
Uji validitas butir dilakukan dengan cara menghitung koefisien korelasi antara tiap-tiap skor butir dengan skor total butir tiap bagian. Perhitungan koevisien korelasi dengan menggunakan rumus korelasi product moment (Sugiyono, 2009: 228) dengan menggunakan angka kasar sebagai berikut:
rxy=
 
(nSxi2 – (Sxi)2)(Syi2-(yi))2

 
                               nSxiyi – (Sxi)(Syi)

Keterangan
rxy        : Koevisien korelasi variabel x dan y
xi          : Skor butir tes
yi          : Skor total
n          : Jumlah responden dalam sampel

b. Uji Reabilitas
Uji reabilitas motivasi orang tua dilakukan dengan menggunakan rumus koefisien alpha dari Cronbach (Sugiono, 2009: 365) yang dinyatakan sebagai berikut:
Sợ ợt2
 
2i

 
n    n-1
 
r11=
 
                                   
                                        1 
Keterangan                  :
2i

 
                        S     = jumlah varians tiap-tiap butir (item)
                        ợt2           = Varian total
                        r11           = Reabilitas yang dicari
                        n             = Jumlah butir soal
Sedangkan uji reabilitas butir tes prestasi belajar matematika dilakukan dengan menggunakan rumus KR 20 (Sugiono, 2009: 359) sebagai berikut;














2x
 
         KR20 =                          1-

2x
 
Keterangan  :
S          = Varians skor tes
k        =  Jumlah item dalam tes
  p        =  Proporsi subjek yang menjawab  benar

F. Desain Penelitian
Penelitian bertujuan untuk menganalisis hubungan motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar matematika. Berdasarkan diskripsi teoritik, penelitien yang relevan dan hipotesis penelitian, maka diduga bahwa, motivasi belajar siswa berhubungan terhadap pencapaian prestasi belajar matematika. Dengan demikian penelitian ini termasuk penelitian pradigma sederhana, dengan bagan sebagai berikut:

                        X                                    Y

Keterangan      :
X         : Variabel motivasi belajar siswa
Y         : Variabel prestasi belajar matematika

G. Teknik Analisis Data
Masalah dalam penelitian ini adalah menguji karakteristik variabel-variabel yang diteliti, menguji ada tidaknya hubungan motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar matematika.

1. Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif digunaan untuk mendeskripsikan data yang berupa skor dari angket motivasi belajar siswa, dan tes prestasi belajar matematika digunakan teknik statistik deskriptif yang meliputi: mean, median, modus.
Dalam daftar distribusi frekuensi, data yang berupa skor motivasi belajar siswa, dan prestasi belajar matematika, dikelompokkan dalam kelas interval. Untuk menentukan banyaknya kelas interval digunakan aturan starges.



2. Pengujian Persyaratan Analisis
Teknik analisa data yang akan di gunakan adalah : (1) analisis regresi linier sederhana, (2) analisis korelasi. Untuk analisis regresi linier pengujian persyaratan analisis meliputi uji normalitas, uji linieritas dan keberartian regresi.
a.Uji Normalitas
            Uji normalitas dimasukan untuk mengetahui apakah sebaran data yang di pergunakan dalam penelitian dan galat taksiran (y-y) berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas menggunakan rumus chi-kuadrat (χ2)





kS i=1
 


( fofh )2
fh
 



                                    yaitu : x2 =

Keterangan :
            fh = Frekuensi yang diharapkan
            fo = Frekuensi yang diobservasi
            χ2 = Chi kuadrat
Taraf signifikasi α = 0,05 dan derajat kebebasan dk = (k-3) dengan k adalah banyaknya kelas interval. Sebaran data dan galat taksiran berdistribusi normal bila χ hit 2  χ tabel2  ( sugiyono,2009: 107)


b. Uji linieritas dan Keberartian Regresi
            Uji linieritas bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat bersifat linier atau tidak. Untuk menguji linieritas regresi di gunakan statistik F yang dinyatakan dengan:


STC2  SE2
 


                         F = 

Dengan dk pembilang (k-2) dan dk penyebut (n-k). Untuk menguji hipotesis kriterianya adalah regresi linier jika Fhit < Ftabel pada taraf signifikan 5%.
Uji keberartian regresi dimaksudkan untuk mengetahui apakah regresi antara variabel terikat dengan variabel bebas berarti atau tidak. Untuk menguji keberartian regresi digunakan uji statistik F yang dinyatakan dengan:


Sreg2 Ssisa2
 


                         F =

Dengan dk pembilang satu dan dk penyebut = n-2 untuk menguji hipotesis kriterianya adalah koefisien kearah regresi berarti fhit >f tabel pada taraf signifikansi 5% (sugiyono, 2009: 273). F hit < F tabel



3.  Pengujian Hipotesis
Setelah persyaratan analisis di penuhi maka analisis untuk pengujian hipotesis dapat dilaksanakan. Untuk menguji hipotesis pertama dan kedua digunakan analisis korelasi dan regresi sederhana. Persamaan umum regresi dengan satu prediktor dinyatakan dengan rumus:
                           ý = a + bx
 keterangan :
                     ý = persamaan regresi linier
                      a = konstanta
                      b = koefisien regresi untuk x
Untuk menguji keberartian koefisien regresi (r) digunakan rumus statistik student t yang digunakan dengan:




                                T =

Kriteria keputusan : jika |thit| > tabel maka Ho di tolak, |thit| ≤ tabel Ho diterima (sugiyono,2009:230).






TABEL III
PEDOMAN UNTUK MEMBERIKAN INTERPRESTASI
TERHADAP KOEFISIEN KORELASI
Interval koefisien
Tingkat Hubungan
0,00 – 0,199
0,20 – 0,399
0,40 – 0,599
0,60 – 0,799
0,80 – 1,00

Sangat Rendah
Rendah
Sedang
Kuat
Sangat Kuat


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar